PENGARUH HABAIB DI TANAH BETAWI


                Para ulama habaib sejak ratusan tahun yang lalu mempunyai hubungan yang akrab dengan ulama,kyai,ustadz dan para santri di betawi. Sejak dating dari Hadramaut pada abad ke-18 M dan puncaknya pada akhir abad ke-19M, para habaib tersebut mendapatkan tempat yang baik di hati penduduk Betawi. Bahkan ada yang mengatakan kehadiran mereka ibarat siraman salju bagi perkembangn Islam di Nusantara. Artinya, dakwah mereka itu membawa kesejukan di hati para penduduk. Merek abergaul dan saling tolong menolong dengan para ulama asli betawi. Merekalah pemancang tonggak dakwah Islam di tanah Betawi.
                Selain pelabuhan Banten, pelabuhan Sunda Kelapa merupakan pintu masuk bagi mereka yang datang ke Nusantara ini. Oleh karenanya, para ulama Alawiyin asal Hadramaut tersebut dapat dipastikan pernah menginjak kaki mereka ke kota Jakarta. Jadi tidaklah mengherankan, jikalau pengaruh habaib begitu besar di Tanah Betawi ini. Di samping berdakwah dan mengajar, para ulama tersebut juga berdagang untuk menghidupi keluarga mereka.
                Pertama kalinya, imigran Alawiyin tersebut bermukim di kawasan pekojan yang letaknya tidak jauh dari Glodok, kawasan Jakarta Barat. Mereka berkumpul dan beranak pinak di tempat tersebut. Hingga pada saat itu mayoritas warga kampong Pekojan terdiri dari keturunan etnis Arab. Namun pada sekitar tahun 1950-an mereka mulai berpencar ke kawasan-kawasan lainnya di Jakarta. Di kampong Pekojan, mereka memusatkan segala kegiatan dakwahnya, mereka mengajar, mendirikan majelis taklim, hingga mereka membangun Masjid sebagai sarana beribadah. Banyak tokoh-tokoh besar yang dilahirkan di kampung tersebut, diantaranya, Al-Habib Utsman bin Abdullah bin Agil bin Yahya (Mufti Betawi) dan banyak lagi tokoh-tokoh habaib lainya. Masyarakat Betawi kala itu berdatangan ke kampung Pejokan untuk menemui serta belajar kepada para Ulama tersebut.
                Jejak-jejak peninggalan mereka telah menjadi saksi bisu atas kehadiran para Ulama Habaib tersebut. Semua itu dapat kita temukan di kawasan Kampung Pekojan. Di antaranya adalah : Masjid An-Nawir, di dirikan pada tahun 1760-an, yang lebih di kenal dengan sebutan Masjid Pekojan. Di bagian belakangnya terdapat makm pendirinya, yaitu, Syarifah Fatmah. Pada akhir abad ke 19 M, masjid tersebut di perluas oleh Sayyid Abdullah bin Husein Al-Aydrus, seorang tuan tanah, yang kini namanya diabadikan sebagai nama sebuah jalan, di mana tempat ia pernah bermukim. Di Masjid tersebut Al-Habib Utsman bin Yahya, mengajar dan memberikan fatwa sebelum akhirnya beliau pindah Petamburan. Di sana juga dapat di jumpai Masjid Zawiyah, yang didirikan oleh Al-Habib Hamzah Al-Attas, yang merupakan guru Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas. Setiap Bulan Ramadhan masjid ini selalu di penuhi jama’ah shalat terawih, yang pada malam-malam akhir bulan ramadhan diisi dengan khataman Al-Qur’an, yang dihadiri ribuan orang. Rumah-rumah penduduk sekitar masjid membuka pintunya lebar-lebar dan menyediakan santapan untuk berbuka puasa bagi siapapun. Di pekojan masih terdapat beberapa masjid tua yang telah berusia ratusan tahun, diantaranya: Masjid Al-Anshar, Masjid Kampung Baru, Masjid Ar-Raudha, Masjid Angke, yang rata-rata berusia hamper dua abad. Namun semuanya masih berdiri dengan kukuh.
                Penduduk Betawi saat itu bukan hanya menerima mereka sebagai saudara seagama. Bahkan mereka sangat menghormatinya sebagai ulama dan keturunan Rasulullah SAW. Wajar jika banyak di antara mereka yang menjalin hubungan kekeluargaan lewat pernikahan dengan putri-putri penduduk setempat, bahkan di antaranya menikah dengan putri bangsawan setempat. Maka wajarlah jika kemudian banyak tokoh Alawiyin menjadi tokoh-tokoh nasionl dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia.
                Pihak kompeni tahu persis, bahwa Ulama Habaib inilah yang membangkitkan semangat rakyat untuk melawan penjajahan dan para Ulama Habaib di pekojan ini menjadi pusat rujukan penduduk Betawi. Masyarakat keluar masuk pekojan guna menuntut ilmukepada mereka. Kompeni tidak menghendaki masyarakat belajar agama. Oleh karenanya, dakwah sangat di batasi dan diawasi secara ketat oleh pihak colonial. Maka saat itu, pemerintah colonial Hindia Belanda memberlakukan Wijken stelsel dan juga Passen stelsel yang dengan system ini, mereka warga pekojan jika hendak berpergian ke luar pekojan harus memilikipas jalan. Apabila ingin keluar kota harus meminta Izinpada pihak colonial Belanda, yang pengurusannya memakan waktu berhari-hari dan dipersulit.
                Pada abad ke-17 M, muncullah sosok Ulama Habaib yang karismanya terpancar ke antero Tanah Betawi. Beliau dating dari negeri Hadramaut, singgah di Gujarat dan kemudian melanjutkan dakwahnya ke Negeri ini. Beliau tinggal di daerah kampung Bandan, sepesisir pantai dekat Pelabuhan Aunda Kelapa, kini lebih di kenal dengan nama Kampung Keramat Luar Batang. Kedatangan beliau memberikan angina segar bagi para penduduk Betawi. Saat itu kompeni menekan rakyat dan membatasi semua kegiatan. Namun dengan kedatangnnya, Al-Habib Husein mengobarkan semangat rakyat untuk melawan penjajah. Beliau membina umat, mengadakn dakwah, hingga ditangkap dan di jebloskan penjara bersama pengikutnya oleh pihak kompeni. Setelah bebas dari penjara beliau mendirikan sebuah masjid, yang sebelumnya di daerah pesisir tersebut tidak ada satu masjid pun. Rakyat sangat senang dengan prilaku beliau, akhlak dan perilakunya membuat beliau di cintai semua lapisan masyrakat, tak terkecuali para pemerintahan colonial Belanda. Beliau berdakwah, hingga akhir hayatnya. Dan dimakamkan di daerah tersebut. Hingga saat ini makamnya selalu ramai dan tak pernah sepi dari para peziarah yang dating.
(di kutip dari buku TIGA SERANGKAI ULAMA TANAH BETAWI(Al-Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladdawilah)).

PENGERTIAN ALAWIYIN

Dalam kehidupan di Indonesia kata habib sudah tidak asing lagi di masyarakat. Sebutan habib merupakan sebuah gelar yang disematkan para pencintanya sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada para keturunan Rasulullah saw. Di beberapa negara, sebutan untuk dzuriyat Rasulullah saw ini bebeda-beda. Di Maroko dan sekitarnya mereka lebih dikenal dengan sebutan Syarif, di daerah Hijaz mereka lebih dikenal dengan sebutan Sayyid, sedangkan di Nusantara ini umumnya mereka dikenal dengan sebutan Habib.
            Pada sekitar abad 9 H. Hingga abad 14 H mulai membanjirnya hijrah kaum Alawiyin keluar dari Hadramaut. Mereka menyebar ke seluruh belahan dunia hingga sampailah ke Nusantara ini. Diantara mereka ada yang mendirikan kerajaan atau kesulatanan yang peninggalannya masih dapatdisaksikan hingga saat ini, di antaranya adalah: kerajaan Al-‘Aydrus di Surrat di India, kesultanan Al-Qadri di kepulaun komora dan pontianak, kesultanan Al-bin Syahab di Siak dan kesultanan Balfaqih di Filipina. Tokoh utama Alawiyyin pada masa itu adalah Al-‘Allamah Al-Imam Al-Quthb Al-Habib ‘Abdullah bin Alwi Al-Haddad.
            Sejarahwan Hadramaut, Asy-Syeikh Muhammad Bamuthrif di katakan bahwa alawiyyin atau kabilah Ba’Alawi di anggap kabilah yang terbesr jumlahnya di Hadramaut dan yang paling banyak hijrah ke Asia dan Afrika. Jauh sebelum itu, pada abad-abad pertama hijriah julukan alawi di gunakan oleh setiap orang yang bernasab kepada Al-Imam Ali bin Abi thalib r.a. sebagaimana dalam sebuah kaidah: “Jika seseorang nasabnya bersambung kepada Al-Imam Ali bin Abi Thalib, maka orang menyebutnya sebagai Alawi.”
            Kata Alawiyin memiliki dua pengertian. Pengertian pertama ialah keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sedangkan pengertian kedua menunjukkan keturunan Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Ali Al-‘uraidhi bin Ja’far Shodiq. Istilah Alawiyin atau Ba’Alawi juga di gunakan untuk membdakan keluarga ini dari keluarga para Sayyid lainnya yang sama-sama keturunan Rasulullah saw. Kemudian dalam perkembangannya sebutan Alawi dinisbatkan kepada Al-Imam Alwi bin ‘Ubaidhillah bin Ahmad Al-Muhajir. Alwi adalah cucu pertama Al-Imam Ahmad Al-muhajir bin Isa yang lahir di Hadramaut dan pada masa itu beliau lah yang pertama yang diberi nama Alwi, beliau wafat setelah abad ke-4 hijriah, dan kepadanya kembali semua keturunan Ba’Alawi yang berasal dari Hadramaut.
            Dalam buku ‘sejarah masuknya Islam di timur jauh ,’ Prof. Dr. Hamka menyebutkan bahwa gelar Syarif khusus digunakan bagi keturunan Sayyidina Hasan dan Husain apabila menjadi raja. Banyak dari sultan di Indonesia adalah keturunan Rasulullah saw, diantaranya adalah sultan di Pontianak yang mereka di gelari Syarif. Sultan Siak terakhir secara resmi digelari sultan Sayyid Syarif Qosim bin Sayyid Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin. Demikian pula dengan pendiri kota Jakarta yang lebi dikenal dengan Sunnan Gunung Jati, Ia digelari Syarif Hidayatullah.
            Kepada buya Hamka menjelaskan bahwa sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda, yang artinya:”Sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin (Sayyid) pemuda ahli surga.” Berlandaskan Hadits tersebut, sudah menjadi tradisi turun-temurun bahwa setiap keturunan Sayyidina Hasan dan Husain digelari Sayyid. Dipandang sangat tidak hormat kepada Rasulullah saw jika ada yang mengatakan bahwa Rasulullah saw tidak memiliki keturunan dan mengatakan bahwa orang yang mengaku keturunan beliau saw adalah seorang yang berbohong. Tidak akan mengatakan perkataan seperti ini kecuali orang yang dihatinya terdapat perasaan iri dan dengki
            Di Indonesia sendiri ada lemabaga khusus yang mencatat nasab para Alawiyin, sehingga benar-benar gelar habib atau sayyid tidak disalah gunakan oleh seseorang. Lembaga tersebut lebih dikenal dengan nama Rabithah Alawiyah yang berpusat di kota Jakarta. Wallahu ‘alam...
di kutip dari buku 17 habaib berpengaruh di Indonesia