Dari Abu Hurairahr.a., Iaberkata :Rasulullah saw. Bersabda : “ Sungguh Allah Ta’alamempunyaimalaikat-malaikat yang berkelilingmencariahlizikir. Apabilamerekamenemukankaum yang berzikirkepada Allah AzzawaJalla, merekasalingmemanggil : “datanglahkemarikepadahajat kalian!” paramalaikatitulalumelingkupiparaahlizikirdengansayap-sayapmerekasampaikelangitdunia. Lalu Allah merekabertanya – Dialebihtahu-:” apa yang di ucapkanolehparahamba-Ku?”. Para malaikatmenjawab: “ Merekabertasbihkepada-Mu, bertakbirkepada-Mu, memuji –Mu danmengaggungkan-Mu.” Allah bertanya: “apakahmelihat-Ku?” paramalaikatmenjawab : “tidak, demi Allah, merekatidakmelihat-Mu.” Bagaimanakahbilamerekamelihat-Ku?” paramalaikatmenjawab : “ seandainyamerekmelihat-Mu, tentumerekalebihkerasberibadahkepada-Mu, lebihbersungguh-sungguhmengagungkan-Mu danlebihbanyakbertasbihkepada-Mu.” Allah bertanya: “ laluapakah yang merekaminta?” paramalaikatmenjawab : “ merekamemintasurgakepada-Mu.” Allah bertanya : “ apakahmerekapernahmelihatsurgaitu?” paramalaikatmenjawab : “ Tidak, demi Allah merekatidakpernahmelihatnya.” Allah bertanya: “ lantasbagaimanakahseandainyamerekamelihatnya?” malaikatmenjawab: “ seandainyamerekamelihatnya, tentulebihkuatkeinginanmerekaterhadapsurgaitudanselalumemintanya, sertalebihbesardambaanmerekaterhadapsurga.” Allah bertanya : “ dariapakahmerekamemohonperlindungan ?” malaikatmenjawab : “ merekamemohonperlindungandarineraka.” Allah bertanya : “ apakahmerekapernahmelihatnya?” malaikatmenjawab: “ Tidak, demi Allah merekatidakpernahmelihatnya.” Allah bertanya: “bagaimanaseandainyamerekamelihatnya ?” malaikatmenjawab : “ seandainyamerekamelihatnya, tentubertambahkuatdanjauhlarimerekaterhadapnya.” Allah berfirman: “ saksikanlaholeh kalian bahwaAkutelahmengampunimereka.” Ada malaikatmenyela: “di antaramerekaterdapatsifulan yang tidaktermasukmereka. Diadatanghanyakarenakeperluanpribadi.” Allah berfirman: “merekasama-samaduduk, tidakakancelakaolehtemandudukmereka.” (HR.Bukharidan Muslim).
PENGARUH HABAIB DI TANAH BETAWI
Para ulama habaib sejak ratusan tahun yang lalu mempunyai hubungan yang akrab dengan ulama,kyai,ustadz dan para santri di betawi. Sejak dating dari Hadramaut pada abad ke-18 M dan puncaknya pada akhir abad ke-19M, para habaib tersebut mendapatkan tempat yang baik di hati penduduk Betawi. Bahkan ada yang mengatakan kehadiran mereka ibarat siraman salju bagi perkembangn Islam di Nusantara. Artinya, dakwah mereka itu membawa kesejukan di hati para penduduk. Merek abergaul dan saling tolong menolong dengan para ulama asli betawi. Merekalah pemancang tonggak dakwah Islam di tanah Betawi.
Selain pelabuhan Banten, pelabuhan Sunda Kelapa merupakan pintu masuk bagi mereka yang datang ke Nusantara ini. Oleh karenanya, para ulama Alawiyin asal Hadramaut tersebut dapat dipastikan pernah menginjak kaki mereka ke kota Jakarta. Jadi tidaklah mengherankan, jikalau pengaruh habaib begitu besar di Tanah Betawi ini. Di samping berdakwah dan mengajar, para ulama tersebut juga berdagang untuk menghidupi keluarga mereka.
Pertama kalinya, imigran Alawiyin tersebut bermukim di kawasan pekojan yang letaknya tidak jauh dari Glodok, kawasan Jakarta Barat. Mereka berkumpul dan beranak pinak di tempat tersebut. Hingga pada saat itu mayoritas warga kampong Pekojan terdiri dari keturunan etnis Arab. Namun pada sekitar tahun 1950-an mereka mulai berpencar ke kawasan-kawasan lainnya di Jakarta. Di kampong Pekojan, mereka memusatkan segala kegiatan dakwahnya, mereka mengajar, mendirikan majelis taklim, hingga mereka membangun Masjid sebagai sarana beribadah. Banyak tokoh-tokoh besar yang dilahirkan di kampung tersebut, diantaranya, Al-Habib Utsman bin Abdullah bin Agil bin Yahya (Mufti Betawi) dan banyak lagi tokoh-tokoh habaib lainya. Masyarakat Betawi kala itu berdatangan ke kampung Pejokan untuk menemui serta belajar kepada para Ulama tersebut.
Jejak-jejak peninggalan mereka telah menjadi saksi bisu atas kehadiran para Ulama Habaib tersebut. Semua itu dapat kita temukan di kawasan Kampung Pekojan. Di antaranya adalah : Masjid An-Nawir, di dirikan pada tahun 1760-an, yang lebih di kenal dengan sebutan Masjid Pekojan. Di bagian belakangnya terdapat makm pendirinya, yaitu, Syarifah Fatmah. Pada akhir abad ke 19 M, masjid tersebut di perluas oleh Sayyid Abdullah bin Husein Al-Aydrus, seorang tuan tanah, yang kini namanya diabadikan sebagai nama sebuah jalan, di mana tempat ia pernah bermukim. Di Masjid tersebut Al-Habib Utsman bin Yahya, mengajar dan memberikan fatwa sebelum akhirnya beliau pindah Petamburan. Di sana juga dapat di jumpai Masjid Zawiyah, yang didirikan oleh Al-Habib Hamzah Al-Attas, yang merupakan guru Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas. Setiap Bulan Ramadhan masjid ini selalu di penuhi jama’ah shalat terawih, yang pada malam-malam akhir bulan ramadhan diisi dengan khataman Al-Qur’an, yang dihadiri ribuan orang. Rumah-rumah penduduk sekitar masjid membuka pintunya lebar-lebar dan menyediakan santapan untuk berbuka puasa bagi siapapun. Di pekojan masih terdapat beberapa masjid tua yang telah berusia ratusan tahun, diantaranya: Masjid Al-Anshar, Masjid Kampung Baru, Masjid Ar-Raudha, Masjid Angke, yang rata-rata berusia hamper dua abad. Namun semuanya masih berdiri dengan kukuh.
Penduduk Betawi saat itu bukan hanya menerima mereka sebagai saudara seagama. Bahkan mereka sangat menghormatinya sebagai ulama dan keturunan Rasulullah SAW. Wajar jika banyak di antara mereka yang menjalin hubungan kekeluargaan lewat pernikahan dengan putri-putri penduduk setempat, bahkan di antaranya menikah dengan putri bangsawan setempat. Maka wajarlah jika kemudian banyak tokoh Alawiyin menjadi tokoh-tokoh nasionl dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia.
Pihak kompeni tahu persis, bahwa Ulama Habaib inilah yang membangkitkan semangat rakyat untuk melawan penjajahan dan para Ulama Habaib di pekojan ini menjadi pusat rujukan penduduk Betawi. Masyarakat keluar masuk pekojan guna menuntut ilmukepada mereka. Kompeni tidak menghendaki masyarakat belajar agama. Oleh karenanya, dakwah sangat di batasi dan diawasi secara ketat oleh pihak colonial. Maka saat itu, pemerintah colonial Hindia Belanda memberlakukan Wijken stelsel dan juga Passen stelsel yang dengan system ini, mereka warga pekojan jika hendak berpergian ke luar pekojan harus memilikipas jalan. Apabila ingin keluar kota harus meminta Izinpada pihak colonial Belanda, yang pengurusannya memakan waktu berhari-hari dan dipersulit.
Pada abad ke-17 M, muncullah sosok Ulama Habaib yang karismanya terpancar ke antero Tanah Betawi. Beliau dating dari negeri Hadramaut, singgah di Gujarat dan kemudian melanjutkan dakwahnya ke Negeri ini. Beliau tinggal di daerah kampung Bandan, sepesisir pantai dekat Pelabuhan Aunda Kelapa, kini lebih di kenal dengan nama Kampung Keramat Luar Batang. Kedatangan beliau memberikan angina segar bagi para penduduk Betawi. Saat itu kompeni menekan rakyat dan membatasi semua kegiatan. Namun dengan kedatangnnya, Al-Habib Husein mengobarkan semangat rakyat untuk melawan penjajah. Beliau membina umat, mengadakn dakwah, hingga ditangkap dan di jebloskan penjara bersama pengikutnya oleh pihak kompeni. Setelah bebas dari penjara beliau mendirikan sebuah masjid, yang sebelumnya di daerah pesisir tersebut tidak ada satu masjid pun. Rakyat sangat senang dengan prilaku beliau, akhlak dan perilakunya membuat beliau di cintai semua lapisan masyrakat, tak terkecuali para pemerintahan colonial Belanda. Beliau berdakwah, hingga akhir hayatnya. Dan dimakamkan di daerah tersebut. Hingga saat ini makamnya selalu ramai dan tak pernah sepi dari para peziarah yang dating.
(di kutip dari buku TIGA SERANGKAI ULAMA TANAH BETAWI(Al-Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladdawilah)).
PENGERTIAN ALAWIYIN
Dalam kehidupan di Indonesia kata habib sudah tidak asing lagi di masyarakat. Sebutan habib merupakan sebuah gelar yang disematkan para pencintanya sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada para keturunan Rasulullah saw. Di beberapa negara, sebutan untuk dzuriyat Rasulullah saw ini bebeda-beda. Di Maroko dan sekitarnya mereka lebih dikenal dengan sebutan Syarif, di daerah Hijaz mereka lebih dikenal dengan sebutan Sayyid, sedangkan di Nusantara ini umumnya mereka dikenal dengan sebutan Habib.
Pada sekitar abad 9 H. Hingga abad 14 H mulai membanjirnya hijrah kaum Alawiyin keluar dari Hadramaut. Mereka menyebar ke seluruh belahan dunia hingga sampailah ke Nusantara ini. Diantara mereka ada yang mendirikan kerajaan atau kesulatanan yang peninggalannya masih dapatdisaksikan hingga saat ini, di antaranya adalah: kerajaan Al-‘Aydrus di Surrat di India, kesultanan Al-Qadri di kepulaun komora dan pontianak, kesultanan Al-bin Syahab di Siak dan kesultanan Balfaqih di Filipina. Tokoh utama Alawiyyin pada masa itu adalah Al-‘Allamah Al-Imam Al-Quthb Al-Habib ‘Abdullah bin Alwi Al-Haddad.
Sejarahwan Hadramaut, Asy-Syeikh Muhammad Bamuthrif di katakan bahwa alawiyyin atau kabilah Ba’Alawi di anggap kabilah yang terbesr jumlahnya di Hadramaut dan yang paling banyak hijrah ke Asia dan Afrika. Jauh sebelum itu, pada abad-abad pertama hijriah julukan alawi di gunakan oleh setiap orang yang bernasab kepada Al-Imam Ali bin Abi thalib r.a. sebagaimana dalam sebuah kaidah: “Jika seseorang nasabnya bersambung kepada Al-Imam Ali bin Abi Thalib, maka orang menyebutnya sebagai Alawi.”
Kata Alawiyin memiliki dua pengertian. Pengertian pertama ialah keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sedangkan pengertian kedua menunjukkan keturunan Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Ali Al-‘uraidhi bin Ja’far Shodiq. Istilah Alawiyin atau Ba’Alawi juga di gunakan untuk membdakan keluarga ini dari keluarga para Sayyid lainnya yang sama-sama keturunan Rasulullah saw. Kemudian dalam perkembangannya sebutan Alawi dinisbatkan kepada Al-Imam Alwi bin ‘Ubaidhillah bin Ahmad Al-Muhajir. Alwi adalah cucu pertama Al-Imam Ahmad Al-muhajir bin Isa yang lahir di Hadramaut dan pada masa itu beliau lah yang pertama yang diberi nama Alwi, beliau wafat setelah abad ke-4 hijriah, dan kepadanya kembali semua keturunan Ba’Alawi yang berasal dari Hadramaut.
Dalam buku ‘sejarah masuknya Islam di timur jauh ,’ Prof. Dr. Hamka menyebutkan bahwa gelar Syarif khusus digunakan bagi keturunan Sayyidina Hasan dan Husain apabila menjadi raja. Banyak dari sultan di Indonesia adalah keturunan Rasulullah saw, diantaranya adalah sultan di Pontianak yang mereka di gelari Syarif. Sultan Siak terakhir secara resmi digelari sultan Sayyid Syarif Qosim bin Sayyid Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin. Demikian pula dengan pendiri kota Jakarta yang lebi dikenal dengan Sunnan Gunung Jati, Ia digelari Syarif Hidayatullah.
Kepada buya Hamka menjelaskan bahwa sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda, yang artinya:”Sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin (Sayyid) pemuda ahli surga.” Berlandaskan Hadits tersebut, sudah menjadi tradisi turun-temurun bahwa setiap keturunan Sayyidina Hasan dan Husain digelari Sayyid. Dipandang sangat tidak hormat kepada Rasulullah saw jika ada yang mengatakan bahwa Rasulullah saw tidak memiliki keturunan dan mengatakan bahwa orang yang mengaku keturunan beliau saw adalah seorang yang berbohong. Tidak akan mengatakan perkataan seperti ini kecuali orang yang dihatinya terdapat perasaan iri dan dengki
Di Indonesia sendiri ada lemabaga khusus yang mencatat nasab para Alawiyin, sehingga benar-benar gelar habib atau sayyid tidak disalah gunakan oleh seseorang. Lembaga tersebut lebih dikenal dengan nama Rabithah Alawiyah yang berpusat di kota Jakarta. Wallahu ‘alam...
di kutip dari buku 17 habaib berpengaruh di Indonesia
MENCINTAI KELUARGA NABI SAW
Setelah meneliti dalil-dalil Al-Qur’an maupun Hadits Rasulullah saw, Asy-Syekh Dr. Muhammad Abduh Al-Yamani menyimpulkan bahwa keluarga Nabi Muhammad saw terdiri dari: Sayyidatuna Fathimah, Ali, Hasan, Husein, beserta para keturunannya. Sedangkan para istri Rasulullah saw juga merupakan keluarga Nabi Muhammad saw yang berdasarkan keumuman ayat Al-Qur’an serta Hadits. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits tentang anjuran membaca sholawat kepada Nabi Muhammad, istri dan keluaga Beliau saw.
Dari Abu Hurairah r.a, ia bertanya kepada rashulullah saw : “Ya Rasulullah bagaimana cara kami membaca shalawat kepadamu?” Rasulullah saw menjawab: “Ya Allah, mudah-mudahan engkau selau mencurahkan shalawat kepada Nabi Muhammad saw,para Istri dan paraketurunannya.” (terdapat di Shahih Bukhari)
Selanjutnya, anjuran untuk menghormati dan memuliaka keluarga Rasulullah saw beserta keturunannya adalah perintah Rasulullah saw, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abi Sa’id al-Khudri r.a. beliau berkata: “Rasulullah saw besabda: Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian dua wasiat, kitabullah dan keluargaku.”(dalam sunan At-timidzi, hadits nomor 3720). Dalam riwayat lain disebutkan, yang artinya: “Aku tinggalkan bagi kalian dua hal, selama kalian berpegang teguh dengan dua hal tersebut, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Yang pertama adalah Al-Qur’an dan yang kedua adalah keturunanku (Ahlul Bait-ku). Sungguh keduanya tak akan terpisahkan selamanya hingga mereka datang kepadaku di telagaku kelak.”
Keturunan Rasulullah SAW atau juga disebut Ahlul Bait selalu berjalan seiring dengan al-Qur’an dan al-Hadis. Mereka tidak pernah segaris pun menyimpang dari al-Qur’an dan al-Hadis. Dalam hal ini al’Allamah al-Imam al- Qutub al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, seorang tokoh panutan bani ‘Alawi, mengatakan: ”Mereka adalah para kaum yang telah diberi hidayah oleh Allah swt, mereka telah beruntung dengan karunia Allah swt, mereka tidak pernah bertujuan kepada selain Allah swt dan mereka selalu berjalan seiring bersama dengan al-Qur’an.”
Maka sudah sepantasnya bagi kita umat Islam untuk mencintai dan menghormati mereka para keluarga Nabi Muhammad saw beserta keturunannya. Kecintaan ini sudah diteladankan dan menjadi tradisi para ulama yang telah mengamalkan ilmunya dan para auliya’ Allah swt. Mereka selalu menghormati, mencitai serta berpegang teguh kepada keluarga Nabi Muhammad saw beserta keturunannya.
Meskipun begitu apabila kita menemukan dari keturunan Rasulullah saw yang menyimpang, sebagai bentuk rasa cinta kepada mereka wajib beramar ma’ruf nahi mungkar. Al-Habib Salim bin Abdullah asy-Syathiri menbedakan antara ta’dzim dan amar ma’ruf nahi mungkar. Terhadap para dzuriyat rasul kita memang dianjurkan untuk ta’dzim, namun jikalau mereka melakukan kesalahan perlu diingatkan, jika tidak maka kita ikut berdosa karena tidak beramar ma’ruf nahi mungkar.
Wallahu a’lam...
Di kutip dari buku 17 Habaib berpengaruh di Indonesia
Sejarah Timbulnya Upacara Manaqiban di Indonesia
Masyarakat islam mengetahui tentang sejarah asal-usul timbulnya upacara Manaqiban, dengan tujuan agar kita umat islam dengan jelas dan jujur memahami latar belakang adanya upacara manqiban yang sampai saat sekarang terus berkembang di tengah-tengah masyarakat Islam di beberapa daerah di Indonesia khususnya pulau Jawa. Jika faktor sejarah ini sudah sengaja disingkirkan maka wajar terjadi pengertian yang keliru.
Sebenarnya sejak zaman dahulul, baik di masa sebelum Nabi Muhammad SAW. Lahir maupun sesudah wafat-Nya, maka Manaqiban itu sudah ada dan di terangkan dalam Al-Qur’an. Seperti dapat dilihat bahwa di dalam Al-Qur’an telah diceritakan dengan jelas sekali adanya Manaqib Maryam, Manaqib Dzulkarnain, Manaqib Ashhabul Kahfi dan lain-lain. Demikian pula setelah wafatnya Nabibanyak di dapat Manaqib Abu Bakar Shidiq r.a, Manaqib Umar bin Khatab r.a, Manaqib Ali bin Abi Thalib r.a, Manaqib Hamzah r.a, Manaqib Abi Sa’ad r.a, Manaqib At-Tijani r.a, Manaqib Syekh ‘Abdul Qodir Al-Jailany r.a dan sebagainya. Mengapa manaqib-manaqib itu terjadi, karena Allah sendiri sudah Berfirman : “Sebagian dari mereka telah Aku ceritakan dan sebagian lainya belum Aku ceritakan.” (QS. Al-Mu’minun: 78)
Dan juga di kuatkan lagi dengan firman Allah SWT dalam beberapa surat An-Nisa’ ayat 164.
Ayat-ayat di atas apabila di teliti, maka dapat diambil beberapa pengertian sebagai berikut:
a. Kita dianjurkan Allah untuk bangkit bergerak mengadakan penelitian sejarah, baik dari sumber Al-Qur’an atau Al-Hadits atau juga sumber-sumber lain yang dapat dipercaya.
b. Kalau sejarah itu sudah dapat di teliti maka hasilnya dianjurkan untuk di ceritakan kepada umat islam secara lisan maupun tulisan.
c. Terjadinya penertian itu dikarenakan banyak sekali sejarah para Nabi,Shalihin,Auliya yang belum diterangkan Allah dalam Al-Qur’an.
Demikian pula halnya dengan sejarah Syekh Abdul Qadir Al-Jailany r.a yang dibukukan para Ulama di Indonesia ini dan banyak beredar di tengah-tengah masyarakat Islam.
Berdasarkan penelitian yang bersifat hipothesis telah membuktikan bahwa pada zaman permulaan Islam di Indonesia terutama di Jawa para Mubaligh Islam yang di pimpin oleh “Walisongo” telah mengaajarkan kepada masyarakat Islam tentang ilmu Thariqah, Manaqib dan amalan-amalan lain yang selaras dengan itu. Praktek seperti ini ternyata berjalan dan berkembang terus sampai sekarang bahkan oleh masyarakat Islam hal tersebut dijadikan sebagai sarana dakwah Islamiyah.
Riwayat singkat Al-imam Al Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al Habsyi ( Shohibul Maulid Shimtuddurror )
Al Habib Al-Imam Al-‘Allamah Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi dilahirkan pada hari jum’at 24 Syawal 1259 H. Di Qasam, sebuah kota di negeri Hadramaut.
Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan orang tuanya; ayahandanya : Al-Imam Al-‘arif-billah Muhammad bin Husain bin ‘abdullah Al-Habsyi dan ibundanya : As-Syarifah Alawiyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang shalihah dan amat bijaksana.
Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan menghatamkan Al-Qur’an dan berhasil menguasai ilmu-ilmu dzahir dan bathin sebelum mencapai usia biasanya dibutuhkan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu, beliau di izinkan oleh para guru beliau untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga cepat sekali beliau menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tmapuk kepemimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.
Selanjutnya beliau melaksanakan tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupakan ilmu pengetahuan Agama yang Sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpukan,mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.
Untuk menampung mereka, dibangunnya masjid “Riyadh” di kota Seiwun (Hadramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi kebutuhan mereka dapat belajar dengan tenang dan tentram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersankutan dengan keperluan hidup sehari-hari
Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yagn berhasil mencapai apa yang di citakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan saja di daerah Hadramaut, tapi tersebar luas di beberaa wilayah negeri lainya, di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.
Di tempat-tempat itu mereka mendirikan pusat-pusat da’wah dan penyiaran agama, mereka sendiri perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan di segani dikalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan di adakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan dibanyak tempat sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.
Al-Habib Ali sendiri telah menjadikan dirinya sebagai contoh teladan terbaik dalam menghias diri dengan akhlak yang mulia, disamping kedermawanannya yang terkenal dimana-mana serta kewibawaannya yang merata, baik diantara tokoh-tokoh terkemuka ataupun masyarakat awam, sehingga setiap kali tiap timbul kesulitan atau keruwetan diantara mereka,niscaya beliau tampil kedepan untuk menyelesaikan.
Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadramaut, pada hari ahad 20 Rabiul Akhir 1333 H. Dan meninggalkan beberapa putra yang memperoleh pendidikan sebaik-baiknya, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berda’wah dan menyiarkan agama.
Diantara putra-putra beliau yang dikenal di Indonesia ialah putranya yang bungsu: Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi pendiri masjid “Ar-Riyadh” di kota Solo (Surakarta). Ia dikenal sebagai pribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah lembut, sopan santun, serta ramah tamah terhadap siappun terutama kaum yang lemah; fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuak bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan. Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabiul awal 1373 H. Dan dimakamkan di kota Surakarta.
Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan di bukukan, disamping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-peasan ataupun surat-menyurat dengan para ulama dimas hidupnya, juga dengan para keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya
Diantara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan dimana-mana, termasuk di kota-kta di Indonesia ialah risalah kecil yang berisi kisah mauli Nabi besar Muhammad SAW., dan diberi judul : Shimthuth Durar fii alkbar maulid khairil basyar wa maa lahu min akhlaq wa au shaf wa shiyar (untian mutiara kisah kelahiran manusia utama : akhlaq, sifat dan riwayat hidupnya).
Langganan:
Postingan (Atom)
